Bacaan 1 :
Ibr. 4 : 12-16
Bacaan 2 :
Mrk. 2 : 13-17
Orang Farisi sering kali menjadi contoh orang-orang yang sangat banyak pengetahuan agamanya tetapi prakteknya di luar jangkauan - alias gak kelakon kabeh. Ketika saya membayangkan menjadi orang Farisi, sebenarnya tidak berbeda jauh dengan apa yang terjadi di masa sekarang. Banyaknya informasi yang mudah didapat tanpa didukung pengolahan hati, umumnya akan menghasilkan tingkah laku yang tidak jauh berbeda dari orang-orang Farisi yaitu sombong. Kesombongan umumnya menjadi pintu masuk awal untuk berhenti berkaca. Semuanya hanya mengarah keluar, hanya kata-kata penghakiman yang terucap.
Hal
yang lebih miris adalah ketika kesombongan itu justru terjadi dalam kehidupan beragama.
Semakin seseorang bertindak religius, semakin dia tidak membawa kedamaian bagi
orang di sekitarnya. Seringkali malah hanya ada kalimat penghakiman dan caci
maki terhadap orang yang dianggap kurang "suci". Padahal hanya karena
sudah taat beragama, ke gereja, aktif pelayanan, dll, tidak serta merta
menjadikan kita santo/santa.
Perkataan
Yesus "bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit", mengingatkanku
bahwa kehadiran Yesus ke dunia sesungguhnya adalah untuk menjalin relasi dengan
manusia. Bila dalam perjanjian lama Allah hadir sebagai sosok yang seolah
menghukum, dalam perjanjian baru Allah berelasi dengan manusia dengan cara
berbeda. Bagiku Allah sangat kreatif, ia selalu menemukan cara untuk berelasi
dengan manusia sesuai dengan perkembangan yang ada. Di perjanjian lama mungkin
kecerdasan manusia pada masa itu tidak sebaik pada masa perjanjian baru
sehingga cara berkomunikasinya pun berbeda. Kini di abad 21, tentu cara Tuhan
berkomunikasi dengan manusia juga sudah berbeda lagi. Dari refleksiku, bagiku
sekarang cara menemukan kehadiran Allah lebih pada kepekaan pengolahan akal
budi dan hati dan bukan lagi menunggu semak belukar yang tiba-tiba terbakar -
kalo sekarang ada yang terbakar mungkin ada yang memang lagi bakar sampah.
Dulu
setiap kali melihat orang-orang yang aktif pelayanan di gereja tetapi aktif
mencaci maki orang lain, saya sangat jengkel sehingga begitu skeptis dengan
orang-orang semacam itu. Bagiku mereka adalah orang-orang Farisi abad ini. Tetapi
ketika semakin merefleksikan bacaan hari ini, aku menyadari bahwa mungkin
mereka adalah sarana bagiku untuk belajar. Lewat mereka, aku belajar untuk merefleksikan
tindakanku, aku belajar mengolah kesabaran, aku belajar untuk menerapkan esensi
beragama yang tidak hanya berujung aktivitas semata.
Bagiku
ajaran agama itu ibarat teori. Hanya karena tahu teori, belum tentu tahu cara
prakteknya. Oleh karena itu butuh pembelajaran untuk menerapkan teori tersebut.
Hal yang perlu disadari juga adalah esensi dari teori-teori yang indah itu
adalah diterapkan menjadi kedamaian bagi kehidupan di dunia. Bila agama tidak
mendatangkan kedamaian, 1000% sudah pasti sesat. Maka bacaan hari ini
mengingatkanku untuk lebih peka berefleksi mengelola batin dan akal budiku agar
tidak jatuh pada kesombongan yang sama. Lewat sosok orang-orang Farisi, aku harus
belajar untuk lebih menghayati orientasi terdalam beragama yaitu mempraktekkannya
sehingga mendatangkan kedamaian di dunia.
Aku
masih sulit menerima penalaran bahwa surga itu sebuah tempat berisi roh-roh manusia
tanpa dosa. Bagiku surga adalah suasana ketika manusia mampu mengelola egonya
sehingga mendatangkan kedamaian bagi siapapun yang berada di dekatnya. Aku akan
terus belajar berefleksi, menjadi lebih peka terhadap gerak batin agar tidak jatuh
dalam kesombongan yang sia-sia. Lebih sia-sia lagi kalau sombongnya pekara agama. Itu sungguh terlalu ... terlalu kengangguren.
Comments
Post a Comment