Skip to main content

19 Januari 2019


Bacaan 1 : Ibr. 4 : 12-16

Bacaan 2 : Mrk. 2 : 13-17

Orang Farisi sering kali menjadi contoh orang-orang yang sangat banyak pengetahuan agamanya tetapi prakteknya di luar jangkauan - alias gak kelakon kabeh. Ketika saya membayangkan menjadi orang Farisi, sebenarnya tidak berbeda jauh dengan apa yang terjadi di masa sekarang. Banyaknya informasi yang mudah didapat tanpa didukung pengolahan hati, umumnya akan menghasilkan tingkah laku yang tidak jauh berbeda dari orang-orang Farisi yaitu sombong. Kesombongan umumnya menjadi pintu masuk awal untuk berhenti berkaca. Semuanya hanya mengarah keluar, hanya kata-kata penghakiman yang terucap.

Hal yang lebih miris adalah ketika kesombongan itu justru terjadi dalam kehidupan beragama. Semakin seseorang bertindak religius, semakin dia tidak membawa kedamaian bagi orang di sekitarnya. Seringkali malah hanya ada kalimat penghakiman dan caci maki terhadap orang yang dianggap kurang "suci". Padahal hanya karena sudah taat beragama, ke gereja, aktif pelayanan, dll, tidak serta merta menjadikan kita santo/santa.

Perkataan Yesus "bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit", mengingatkanku bahwa kehadiran Yesus ke dunia sesungguhnya adalah untuk menjalin relasi dengan manusia. Bila dalam perjanjian lama Allah hadir sebagai sosok yang seolah menghukum, dalam perjanjian baru Allah berelasi dengan manusia dengan cara berbeda. Bagiku Allah sangat kreatif, ia selalu menemukan cara untuk berelasi dengan manusia sesuai dengan perkembangan yang ada. Di perjanjian lama mungkin kecerdasan manusia pada masa itu tidak sebaik pada masa perjanjian baru sehingga cara berkomunikasinya pun berbeda. Kini di abad 21, tentu cara Tuhan berkomunikasi dengan manusia juga sudah berbeda lagi. Dari refleksiku, bagiku sekarang cara menemukan kehadiran Allah lebih pada kepekaan pengolahan akal budi dan hati dan bukan lagi menunggu semak belukar yang tiba-tiba terbakar - kalo sekarang ada yang terbakar mungkin ada yang memang lagi bakar sampah.

Dulu setiap kali melihat orang-orang yang aktif pelayanan di gereja tetapi aktif mencaci maki orang lain, saya sangat jengkel sehingga begitu skeptis dengan orang-orang semacam itu. Bagiku mereka adalah orang-orang Farisi abad ini. Tetapi ketika semakin merefleksikan bacaan hari ini, aku menyadari bahwa mungkin mereka adalah sarana bagiku untuk belajar. Lewat mereka, aku belajar untuk merefleksikan tindakanku, aku belajar mengolah kesabaran, aku belajar untuk menerapkan esensi beragama yang tidak hanya berujung aktivitas semata.

Bagiku ajaran agama itu ibarat teori. Hanya karena tahu teori, belum tentu tahu cara prakteknya. Oleh karena itu butuh pembelajaran untuk menerapkan teori tersebut. Hal yang perlu disadari juga adalah esensi dari teori-teori yang indah itu adalah diterapkan menjadi kedamaian bagi kehidupan di dunia. Bila agama tidak mendatangkan kedamaian, 1000% sudah pasti sesat. Maka bacaan hari ini mengingatkanku untuk lebih peka berefleksi mengelola batin dan akal budiku agar tidak jatuh pada kesombongan yang sama. Lewat sosok orang-orang Farisi, aku harus belajar untuk lebih menghayati orientasi terdalam beragama yaitu mempraktekkannya sehingga mendatangkan kedamaian di dunia.

Aku masih sulit menerima penalaran bahwa surga itu sebuah tempat berisi roh-roh manusia tanpa dosa. Bagiku surga adalah suasana ketika manusia mampu mengelola egonya sehingga mendatangkan kedamaian bagi siapapun yang berada di dekatnya. Aku akan terus belajar berefleksi, menjadi lebih peka terhadap gerak batin agar tidak jatuh dalam kesombongan yang sia-sia. Lebih sia-sia lagi kalau sombongnya pekara agama. Itu sungguh terlalu ... terlalu kengangguren.

Comments

Popular posts from this blog

15 Januari 2019

Bacaan 1 : Ibr. 2:5-12 Bacaan 2 : Mrk. 1:21b-28 Awalnya ketika membaca bacaan ini, yang terbayang hanya klenik-klenik karena ceritanya ngusir setan. Tetapi dalam renunganku, bukan klenik-klenik yang akhirnya saya renungkan.   Kehadiran Yesus mengusir setan dari seseorang yang kerasukan, bagiku seperti gambaran ketika aku sedang menghadapi peristiwa tidak beruntung dalam hidupku. Ketika sedang menghadapi peristiwa tidak mengenakkan, secara manusiawi respon pertama yang muncul adalah rasa takut, khawatir, pesimis, dan semacamnya. Lewat bacaan hari ini, aku merasa seperti diingatkan bahwa penderitaan memang adalah bagian yang tak terpisahkan dalam hidup tetapi Allah akan selalu menyertaiku.   Perihal apakah aku akan menyadari penyertaan Tuhan, tentu juga tergantung pada usahaku untuk menemukannya. Kalau aku selalu melihat sisi negatif dari peristiwa penderitaan, maka aku tidak akan pernah menemukan sisi berkatnya (setidaknya itulah yang kurasakan dar...