Skip to main content

15 Januari 2019


Bacaan 1 : Ibr. 2:5-12
Bacaan 2 : Mrk. 1:21b-28


Awalnya ketika membaca bacaan ini, yang terbayang hanya klenik-klenik karena ceritanya ngusir setan. Tetapi dalam renunganku, bukan klenik-klenik yang akhirnya saya renungkan. 

Kehadiran Yesus mengusir setan dari seseorang yang kerasukan, bagiku seperti gambaran ketika aku sedang menghadapi peristiwa tidak beruntung dalam hidupku. Ketika sedang menghadapi peristiwa tidak mengenakkan, secara manusiawi respon pertama yang muncul adalah rasa takut, khawatir, pesimis, dan semacamnya. Lewat bacaan hari ini, aku merasa seperti diingatkan bahwa penderitaan memang adalah bagian yang tak terpisahkan dalam hidup tetapi Allah akan selalu menyertaiku. 

Perihal apakah aku akan menyadari penyertaan Tuhan, tentu juga tergantung pada usahaku untuk menemukannya. Kalau aku selalu melihat sisi negatif dari peristiwa penderitaan, maka aku tidak akan pernah menemukan sisi berkatnya (setidaknya itulah yang kurasakan dari pengalaman hidupku sejauh ini). Ketika aku dapat melihat sisi positif dari peristiwa apes, banyak hal yang justru aku syukuri. Biasanya dari apes (entah gagal, mengalami sial, dll) justru aku dapat mengenali diriku lebih jauh, dapat memperbaiki langkah hidupku ke depan, dapat menata hidup lebih stabil. 

Pernah aku mempertanyakan kenapa harus ada penderitaan. Kalau Tuhan memang baik, kenapa dia membiarkan manusia menderita. Dalam perenungan akan pengalaman hidupku dan hasil pengamatanku (yang invalid) terhadap kehidupan-kehidupan di sekitarku, sesungguhnya penderitaan juga mengingatkan manusia akan keterbatasannya. Sesempurna apapun kehidupan seseorang, selalu ada saja topik galaunya masing-masing dalam hidupnya. Selalu ada titik rapuh dalam diri setiap orang 

Ketika dihadapi dengan reflektif dan evaluatif, penderitaan justru menjadi proses Tuhan mendidikku menjadi pribadi yang lebih kuat, lebih cerdas, dan rendah hati. Lebih kuat, karena aku jadi memiliki semangat juang. Lebih cerdas, karena aku terus belajar memperbaiki langkah hidupku. Lebih rendah hati, karena aku terus diingatkan bahwa aku memiliki keterbatasan sebagai manusia 

Berpengharapan ketika keadaan stabil akan terasa biasa saja, tapi berpengharapan ketika sulit itu baru luar biasa. Hal yang paling menghina Tuhan bukanlah dengan mengolok-olok, tetapi ketika aku lebih memilih khawatir. Karena khawatir adalah wujud ketidakpercayaan.

Comments

Popular posts from this blog

20 Januari 2019

Bacaan injil : Yoh. 2:1-11 Bacaan hari ini membicarakan tentang mukjizat pertama yang dibuat Yesus di Kana. Ketika berbicara tentang mukjizat, dulu yang terbayang di benak saya adalah cara kerja Tuhan yang ajaib seperti pesulap. Jika merenungkan kembali makna mukjizat, sebenarnya mukjizat adalah wujud dari "yang tidak mungkin bagi manusia, adalah mungkin bagi Allah". Dengan kata lain, Tuhan memang selalu memiliki cara kerja yang tidak bisa kuduga sebelumnya. Semua baru bisa aku pahami setelah aku mengalami peristiwanya. Dulu aku selalu memaknai mukjizat sebagai suatu keajaiban sehingga secara tidak sadar aku menuntut cara kerja Tuhan yang tidak normal. Padahal ketika aku dalam kesulitan, kemudian berusaha keras dan di detik terakhir baru terpikir solusinya, itu saja sebenarnya sudah mukjizat. Jika tanpa "seizin" Tuhan, mungkin aku tetap tidak mendapatkan solusinya. Dengan begitu sebenarnya Tuhan terus "bekerja" dalam hidupku lewat...

19 Januari 2019

Bacaan 1 : Ibr. 4 : 12-16 Bacaan 2 : Mrk. 2 : 13-17 Orang Farisi sering kali menjadi contoh orang-orang yang sangat banyak pengetahuan agamanya tetapi prakteknya di luar jangkauan - alias gak kelakon kabeh . Ketika saya membayangkan menjadi orang Farisi, sebenarnya tidak berbeda jauh dengan apa yang terjadi di masa sekarang. Banyaknya informasi yang mudah didapat tanpa didukung pengolahan hati, umumnya akan menghasilkan tingkah laku yang tidak jauh berbeda dari orang-orang Farisi yaitu sombong. Kesombongan umumnya menjadi pintu masuk awal untuk berhenti berkaca. Semuanya hanya mengarah keluar, hanya kata-kata penghakiman yang terucap. Hal yang lebih miris adalah ketika kesombongan itu justru terjadi dalam kehidupan beragama. Semakin seseorang bertindak religius, semakin dia tidak membawa kedamaian bagi orang di sekitarnya. Seringkali malah hanya ada kalimat penghakiman dan caci maki terhadap orang yang dianggap kurang "suci". Padahal...