Skip to main content

18 Januari 2019


Bacaan 1 : Ibr. 4 : 1-5.11

Bacaan 2 : Mrk. 2 : 1-12

Jika merenungkan kembali mengenai kedatangan Yesus di dunia, yang terpikir olehku adalah prosesAllah mengajarkan manusia jalan menuju kedamaian. Bila dihubungkan dengan bacaan pertama, tempat perhentian lebih melambangkan kedamaian bukan kematian. Kedamaian hanya akan bisa kita capai bila kita menyambut uluran "tangan" Allah sehingga terjalinlah relasi. Seperti dalam bacaan hari ini, ketika orang lumpuh itu percaya kepada Yesus yang melaksanakan apa yang diperintahkannya maka ia pun sembuh.

Dulu aku sering memaknai ayat semacam ini sebagai kisah mukjizat belaka. Jika merenungkannya kembali, inti penting dari bacaan hari ini lebih pada gambaran bahwa kehadiran Allah ke dunia adalah untuk memperbaiki relasi dengan manusia. Perihal apakah relasi tersebut akan membaik, tentu bergantung pada tanggapanku sebagai manusia.

Jika membayangkan perilaku para ahli taurat yang sirik dan heboh menggosip sendiri, sebenarnya hal itu terus berulang dalam berbagai masa kehidupan. Sampai hari ini pun masih ada orang-orang semacam itu. Sangat ironis ketika orang yang begitu mengerti agama tetapi tidak bisa menerapkannya dan justru penerapannya menyakiti orang lain. Hingga saat ini masih banyak fenomena orang begitu taat beribadah tetapi tidak menyebarkan damai.

Dengan begitu, ada perbedaan yang tajam antara beragama dan beriman. Beragama hanya akan jatuh pada kecenderungan ibadah sebagai aktivitas saja. Beriman bagiku adalah menerima kehadiran Allah yaitu dengan menjalin relasi yang akhirnya membuahkan damai dalam hidupku dan bagi sekitarku.

Comments

Popular posts from this blog

15 Januari 2019

Bacaan 1 : Ibr. 2:5-12 Bacaan 2 : Mrk. 1:21b-28 Awalnya ketika membaca bacaan ini, yang terbayang hanya klenik-klenik karena ceritanya ngusir setan. Tetapi dalam renunganku, bukan klenik-klenik yang akhirnya saya renungkan.   Kehadiran Yesus mengusir setan dari seseorang yang kerasukan, bagiku seperti gambaran ketika aku sedang menghadapi peristiwa tidak beruntung dalam hidupku. Ketika sedang menghadapi peristiwa tidak mengenakkan, secara manusiawi respon pertama yang muncul adalah rasa takut, khawatir, pesimis, dan semacamnya. Lewat bacaan hari ini, aku merasa seperti diingatkan bahwa penderitaan memang adalah bagian yang tak terpisahkan dalam hidup tetapi Allah akan selalu menyertaiku.   Perihal apakah aku akan menyadari penyertaan Tuhan, tentu juga tergantung pada usahaku untuk menemukannya. Kalau aku selalu melihat sisi negatif dari peristiwa penderitaan, maka aku tidak akan pernah menemukan sisi berkatnya (setidaknya itulah yang kurasakan dar...