Bacaan 1 :
Ibr. 2 : 14-18
Bacaan 2 :
Mrk. 1 : 29-39
Kisah Yesus menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, banyak ditafsirkan orang sebagai sebuah keajaiban. Dari situ, seringkali orang melihat Yesus dari sisi mukjizat saja. Seakan-akan Yesus hanyalah semacam penyihir/tukang sulap/dukun. Kisah ini bagiku lebih menggambarkan kehadiran Allah dalam penderitaan hidup manusia.
Ketika membayangkan Yesus yang memberi
kesembuhan, dulu aku berpikir asalkan datang berserah diri kepada Yesus maka
penderitaan akan berubah menjadi sukacita. Dalam perenungan pengalaman hidupku,
ketika aku berhenti pada pola pikir seperti itu justru banyak kekecewaan yang
aku alami. Mengapa? Karena rasanya aku sudah berdoa, tapi masalah belum selesai
juga dan akhirnya mulai timbul rasa pemebrontakkan tidak terima merasa kecewa
tidak didengarkan, dsb. Dengan begitu, datang ke Tuhan ternyata tidak ada
sukacita.
Dalam perjalanan, ketika aku mencoba untuk
melihat sebuah peristiwa dari berbagai sisi baru aku dapat melihat sisi berkat
dari sebuah penderitaan. Dengan begitu aku mulai paham bahwa sesungguhnya sisi
bahagia dari penderitaan bisa terlihat dan terasa hanya ketika aku menyadari
bahwa Tuhan menemani perjalanan penderitaanku. Ketika aku berdoa hanya dengan
tuntutan, maka aku tidak akan menyadari penyertaannya. Inti penting dari
kehadiran Tuhan dalam hidupku bukanlah mengabulkan permintaanku melainkan mendidikku
menjadi manusia yang lebih kuat dan rendah hati lewat penderitaan.
Kesadaran akan penyertaan Tuhan bukanlah hal
yang mudah kuterima dengan nalar. Dulu aku berpikir untuk apa mengakui hal
semacam itu. Dulu sulit bagiku mengakui adanya Tuhan, apalagi dengan
kenyataan-kenyataan rasanya doa tidak pernah dijawab padahal ternyata cara
berdoaku yang salah. Setelah perenungan berulang, aku melihat bahwa salah satu
hal yang paling membunuh manusia adalah kesepian. Dengan begitu, kesadaran akan
penyertaan Tuhan dalam penderitaan, menguatkanku untuk terus optimis dalam
situasi-situasi sulit.
Hal lainnya yang menarik dari bacaan ini adalah
gambaran keseharian Yesus. Dia pagi-pagi sudah bangun, selesai doa, dan bahkan sudah
siap untuk kembali bekerja. Jika aku memang mengikutinya maka seharusnya aku
meneladaninya, bukan hanya melihat sisi ajaibnya. Salah satu perubahan kecil
yang harus kubuat adalah bangun langsung ketika alarm bunyi di pagi hari. Kalau
memang serius meneladani, maka seharusnya aku tidak banyak alasan mulet-mulet lama
di kasur dan bahkan tidur kembali. Harus lebih produktif.
Comments
Post a Comment