Bacaan injil : Yoh. 2:1-11 Bacaan hari ini membicarakan tentang mukjizat pertama yang dibuat Yesus di Kana. Ketika berbicara tentang mukjizat, dulu yang terbayang di benak saya adalah cara kerja Tuhan yang ajaib seperti pesulap. Jika merenungkan kembali makna mukjizat, sebenarnya mukjizat adalah wujud dari "yang tidak mungkin bagi manusia, adalah mungkin bagi Allah". Dengan kata lain, Tuhan memang selalu memiliki cara kerja yang tidak bisa kuduga sebelumnya. Semua baru bisa aku pahami setelah aku mengalami peristiwanya. Dulu aku selalu memaknai mukjizat sebagai suatu keajaiban sehingga secara tidak sadar aku menuntut cara kerja Tuhan yang tidak normal. Padahal ketika aku dalam kesulitan, kemudian berusaha keras dan di detik terakhir baru terpikir solusinya, itu saja sebenarnya sudah mukjizat. Jika tanpa "seizin" Tuhan, mungkin aku tetap tidak mendapatkan solusinya. Dengan begitu sebenarnya Tuhan terus "bekerja" dalam hidupku lewat...
Bacaan 1 : Ibr. 4 : 12-16 Bacaan 2 : Mrk. 2 : 13-17 Orang Farisi sering kali menjadi contoh orang-orang yang sangat banyak pengetahuan agamanya tetapi prakteknya di luar jangkauan - alias gak kelakon kabeh . Ketika saya membayangkan menjadi orang Farisi, sebenarnya tidak berbeda jauh dengan apa yang terjadi di masa sekarang. Banyaknya informasi yang mudah didapat tanpa didukung pengolahan hati, umumnya akan menghasilkan tingkah laku yang tidak jauh berbeda dari orang-orang Farisi yaitu sombong. Kesombongan umumnya menjadi pintu masuk awal untuk berhenti berkaca. Semuanya hanya mengarah keluar, hanya kata-kata penghakiman yang terucap. Hal yang lebih miris adalah ketika kesombongan itu justru terjadi dalam kehidupan beragama. Semakin seseorang bertindak religius, semakin dia tidak membawa kedamaian bagi orang di sekitarnya. Seringkali malah hanya ada kalimat penghakiman dan caci maki terhadap orang yang dianggap kurang "suci". Padahal...